KEKUATAN ORANGTUA UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (EXCEPTIONAL CHILDREN)

Setiap dari manusia terlahir dengan keunikannya. Kalimat itu rasanya merupakan hal yang tepat untuk diletakkan dalam mindset, supaya setiap dari manusia bisa muncul rasa saling menghargai dan menghormati atas keragaman. Kenyataan di lapangan, tidak semua manusia yang terlahir di dunia dalam keadaan sempurna. Oleh karena itu, menanamkan pandangan bahwa setiap manusia diciptakan dengan keunikannya oleh Tuhan Yang Maha Pencipta adalah hal yang paling tepat.

Berbicara tentang berbagai keunikan dari manusia, ada manusia yang terlahir dengan memiliki kebutuhan khusus. Jelasnya, meski memiliki kebutuhan khusus mereka juga memiliki hak yang sama seperti manusia normal. Salah satu dasar hukum yang menjamin persamaan hak untuk anak berkbutuhan khusus adalah  UU no 8 tahun 2016 tentang fasilitas yang berhak didapatkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus, yakni anak dengan berkebutuhan khusus berhak mendapatkan fasilitas pendidikan disetiap jalur, jenis, dan jenjang pendidikan seseuai dengan kewenangannya.

Sebagai bentuk implementasi dari UU tersebut, Yayasan Mutiara Kasih yakni memiliki  sekolah yang khusus diperuntukkan untuk anak Paud berkebutuhan khusus. Sekolah tersebut berkonsentrasi untuk membantu anak-anak dengan ABK agar mendapatkan hak pendidikan atau keterampilan yang mereka butuhkan. Salah satu upaya dari sekolah adalah dengan mengadakan parenting terkait dengan anak ABK. Kegiatan ini dilaksanakan rutin, dengan tujuan para orangtua bisa saling berbagi dan menguatkan untuk keberhasilan anak-anak mereka. Kebetulan pada satu kesempatan parenting tersebut, penulis diundang hadir untuk bisa saling berbagi informasi terkait dengan anak dengan ABK. Pelaksanaan  parenting, diadakan di Sekolah Mutiara Kasih yang bertempat di desa Nglongsor Kabupaten Trenggalek, pada hari jumat 3 Juni 2022 dan dihadiri oleh kurang lebih 20 wali murid dan lima terapis. Adapun kegiatan parenting tersebut membahas tentang bagaimana upaya memberikan pemahaman kepada orangtua, bahwa mereka memiliki kekuatan yang luar biasa untuk anak-anak spesialnya. Melalui tangan mereka, anak-anak ini nantinya mampu memiliki keterampilan setidaknya untuk bisa bertahan diri ditengah keberagaman.

Anak berkebutuhan khusus (ABK) atau exceptional children adalah anak yang tumbuh dan kembangnya berbeda dengan anak normal seusinya. Anak dengan ABK membutuhkan penanganan khusus karena adanya gangguan perkembangan dan kelainan yang dialami oleh anak. Terkait dengan istilah penyebutannya, anak dengan ABK ada yang menyebut dengan sebutan disability, impairment, dan handicap. Tiga istilah yang sering diucapkan oleh beberapa pihak terkait dengan keberadaan anak dengan ABK.

Tiga istilah penyebutan dari anak dengan ABK tersebut memiliki pengertian yang berbeda. Disability, istilah ini merupakan keterbatasan atau kurangnya kemampuan dari individu untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan sebagaimana mestinya. Impairment, istilah ini merupakan kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis dan struktur anatomi atau fungsi dari anak dengan ABK. Handicap, istilah ini merupakan gangguan yang dialami oleh individu karena adanya disability dan impairment, adanya dua kondisi tersebut membuat anak dengan ABK memiliki keterbatasan atau hambatan pemenuhan peran seperti anak normal pada umumnya.

Anak dengan ABK memiliki beberapa kategori, diantaranya intellectual differences, communication differences, sensory difference, behavioral differences, multiple and serve handicapping condition, dan physical difference. Gejala atau perilaku yang dimunculkan anak dengan ABK tidak saja khusus merujuk pada satu jenis kategori tertentu, tetapi juga ada beberapa yang merujuk pada dua atau lebih dari kategori. Oleh karena itu, untuk melakukan diagnose kepada anak dengan ABK dibutuhkan observasi yang dalam dan dilakukan tenaga ahli yakni psikolog, psikiater, dan dokter anak.

Penyebab anak dengan ABK dibedakan menjadi tiga jenis waktu, yang pertama sebelum kelahiran (pre natal), saat kelahiran (natal), dan setelah kelahiran (pasca natal). Sering kali anak dengan ABK keberadaannya bisa terdeteksi pada saat masih dalam kandungan ibu, tapi banyak juga yang terjadi anak dengan ABK baru diketahui keadaannya setelah kelahiran (pasca natal). Hal ini juga, yang sering membuat orangtua menunjukkan berbagai macam respon akan keberadaan dan kondisi anak dengan ABK.

Ada enam tahapan respon orangtua yang ditunjukkan ketika memiliki anak dengan ABK. Respon ini sangat dapat dipahami terjadi pada diri orangtua, karena pada dasarnya setiap orangtua pasti akan berupaya yang terbaik ketika mengetahui bahwa mereka dalam keadaan hamil dan berharap anak yang dilahirkan nanti bisa sempurna (utuh kondisi fisik dan psikis), tapi setelah lahir apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Respon tersebut yang pertama adalah shock, rasa terkejut yang dialami oleh orangtua baik ibu atau ayah. Kedua adalah denial, rasa penyangkalan yang dialami oleh ibu atau ayah atas keberadaan dan kondisi dari anak dengan ABK. Ketiga adalah guilt, rasa bersalah yang muncul pada diri ibu dan ayah atau bisa juga terjadi rasa saling menyalahkan antar ayah dan ibu terkait dengan kondisi anak dengan ABK. Keempat anger, rasa marah yang sulit dikendalikan terhadap keadaan, marah ini bisa diartikan marah kepada diri sendiri, marah kepada psangan, marah kepada kondisi, dan bahkan marah pada Yang Maha Pencipta. Kelima adalah sadness, rasa sedih yang menjalar setelah melalui keempat rasa sebelumnya. Terakhir keenam adalah acceptance dan effort, rasa penerimaan dan munculnya rasa untuk melakukan segala macam usaha dengan tulus ikhlas untuk membantu anak dengan ABK agar memiliki ketrampilan baru supaya bisa bertahan hidup untuk diri mereka sendiri maupun ditengah keberagaman.

Berdasarkan dari respon yang ditimbulkan oleh orangtua, bahwasanya orangtua sebenarnya memiliki kekuatan atau peran utama untuk keterampilan baru yang dimiliki oleh anak dengan ABK. Kekuatan itu diantaranya adalah pertama orangtua menciptakan keluarga yang bisa menjadi pusat awal untuk menentukan sikap menghadapi anak dengan ABK. Kedua, orangtua menciptakan keluarga yang mampu menjadi pusat pengendalian perilaku lingkungan agar bisa menciptakan lingkungan yang membentuk kedisiplinan anak dengan ABK. Ketiga, orangtua memiliki kekuatan untuk memberikan dukungan penuh untuk anak dengan ABK.

Tidak bisa dipungkiri memang orangtua merupakan pondasi pertama untuk anak-anak mereka. Sekaligus orangtua memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang kondusif yang mendukung tumbuh kembang anak-anak, baik untuk anak yang normal ataupun anak yang berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, untuk membentuk kekuatan orangtua perlu dillakukan beberapa perilaku nyata.

Perilaku nyata untuk memunculkan kekuatan orangtua untuk anak dengan ABK diantaranya, pertama orangtua sering meluangkan dan menghabiskan waktu bersama dengan anggota keluarga inti. Kedua, orangtua menjadi jembatan untuk anggota keluarga bisa saling berkomunikasi secara terbuka. Ketiga, jika ada permasalah, orangtua menjembatani untuk bisa memecahkan masalah bersama. Keempat, orangtua menjadi contoh agar setiap anggota keluarga bisa saling memberikan dukungan untuk satu tujuan. Kelima, orangtua memberikan contoh agar setiap anggota keluarga mampu menunjukkan bahasa sayang dan kepedulian satu sama lain. Keenam, orangtua dan keluarga siap untuk menghadapi kehidupan yang kadang naik dan kadang turun.

Penjelasan di atas merupakan beberapa hal yang penulis sampaikan di tengah acara parenting di sekolah Mutiara Kasih Kabupaten Trenggalek. Adapun beberapa dokumentasi yang dapat diambil pada pelaksanaan bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Bentuk kekuatan dan perilaku untuk membentuk kekuatan di atas, jika bisa diterapkan akan menimbulkan suatu pondasi keluarga yang kuat. Hal ini berdampak positif untuk anak dengan ABK yang terlahir ditengah keluarga yang demikian. Karena pada dasarnya mereka adalah sama dengan anak normal akan tetapi yang membedakan adalah mereka membutuhkan bantuan untuk beberapa hal yang tidak bisa mereka kendalikan atas diri mereka. Kekuatan orangtua dan keluarga adalah pondasi utama untuk anak dengan ABK bisa bertahan ditengah keragaman jaman.

(Yuanita Dwi Krisphianti, Dhea Latifatul Prastica)